Matahari Untuk NOVAL



“ Aku tak cukup baik untukmu, aku tak mencintaimu lagi. Aku mencintainya! Aku … aku… ” ucapnya dengan terbata-bata dan ekspresi yang tidak dapat aku terka, mataku berkunang-kunang. Aku bangkit dan melangkah pergi meninggalkannya yang masih terus berbicara. Berjalan gontai menuju parkiran kampus melewati lorong2 kelas  yang cukup sejuk. Pikiranku kosong, dadaku sesak dan pengap. Akal warasku hilang, kupacu sepeda motor ninja 4tak ku dengan kecepatan yang luarbiasa. Air mataku meleleh tanpa bisa kubendung lg, mengalir dan terus mengalir. “Sial, aku lemah sekali!” hardikku dalam hati. Sepeda motor yang kunaiki terus kupacu dan aku bawa ke sebuah puncak di kota Kediri. Di tempat ini, dulu sering ku ajakknya menikmati udara segar. Sebuah bukit dan pemandangan yang luar biasa indah sebagai sajian utamanya yang telah menjadi saksi bisu kisah asmaraku dengannya. Aku merebahkah badanku pada sebuah batu yang cukup besar, angin sepoi-sepoi menerpa kelelahan hatiku yang terluka. Menganga.
Namanya Riska, gadis yang selama 3 tahun terakhir ini menjalin hubungan asmara bersamaku. Gadis semester 6 jurusan management inilah yang beberapa waktu lalu aku perkenalkan pada kedua orang tuaku. Perawakannya cantik, dengan hidung mancung, mata yang bulat dan bulu mata yang lentik ditambah lagi dia juga sangat aktif mengikuti kegiatan-kegiatan kampus membuatku makin jatuh hati dengan gadis periang ini. Aku mengenalnya pertama kali  pada saat ospek pengenalan mahasiswa baru. Kebetulan aku menjadi panitia di dalam acara tersebut. Riska terlihat sangat lugu dengan jilbab paris hitam, hem putih dan rok hitam panjang  yang membalut tubuhnya. Saat itu aku masih semester 3 dan belum memiliki jadwad padat pengerjaan skripsi seperti saat ini. “Jadi namamu siapa, dik?’’ Tanya ku padanya saat acara api unggun sekaligus hari terakhir untuk kegiatan ospek mahasiswa baru. “Nama ku Riska, kak. Kakak namanya siapa?” suaranya sangat renyah dan riang. “Aku Noval” jawabku  pendek.
Aku menyeka air mataku yang masih mengalir. Ahh, aku benar-benar tak bisa menghentikan ini, aku terlihat seperti laki-laki cengeng dan sangat lemah. Kuhirup udara dalam2 dan menghembuskannya. Kuamati keadaan sekitar yg makin gelap dan samar-samar  azdan magrib berkumandang. 2jam sudah aku termenung sendiri diatas batu ini. Aku bangkit dengan mengerikan, mata yang lebam,muka yg pucat, rambut yang kusut dan baju yang berantakan. Untung saja aku berada di atas bukit di pegunungan yang cukup jarang di lalui penduduk, jika tidak mungkin aku sudah dikira mahasiswa yg memalukan. Di dalam masjid yang kecil namun rapi itu aku sholat berjamaah bersama bapak-bapak penduduk asli sekitar, perlahan namun pasti ada ketenangan menyelinap di dalam hatiku. Tak sepenat tadi  saat aku di hantam gelombang  perasaan yang remuk atas sebuah pengakuan yang menyakitkan. Terbesit penyesalan kenapa tidak dari tadi aku ke masjid menenangkan diri disini dari pada terlihat menyedihkan menangisi sebuah keadaan. Tragis.

“Andai saja kau paham, noval. Aku sangat mencintaimu. Perasaan ini begitu besar hingga aku tak mampu melukai mu. Lebih baik aku melihatmu marah dan membenciku karena dusta ini dari pada aku melihatmu terpuruk selamanya’’ ucap riska di dalam hatinya  yang tersayat sembari menatap punggung kekasih hatinya yang semakin jauh melewati lorong kampus. Sebuah senyum tipis tersungging di bibir manisnya. Sore ini mungkin akan menjadi pertemuan terakhir untuk mereka. Karena hari ini Riska harus pindah keluar kota bersama keluarganya.
Rumah itu beraksen joglo  dengan cat warna coklat muda dan di hiasi beberapa tokoh pewayangan di sisi kanan dan kiri pada pintu kayu yang super besar. Tanaman2 hias berjajar rapi di depan pagar, sangat asri sangat rindang dengan beberapa pepohonannya namun masih sangat asing bagi Riska. Ketika sampai di depan pagar yang tidak terlalu tinggi sepeda motor yang di naiki noval dan Riska berhenti. “Kita sudah sampai?” Tanya Riska pada noval yang sibuk melepas jaket kulitnya. “Yap, kita sudah sampai. Mari turun tuan putri silahkan masuk di istana saya” goda noval pada Riska. Sejenak ada sebuah keraguan di muka riska , beruntung  noval segera menangkap sinyal tersebut. “Kamu gak usah khawatir, ayah dan ibu aku baik kok. Aku bakal temani kamu terus, jangan takut ya!” katanya seraya menggenggam tangan Riska. Seperti mendapat suntikan energi senyum di bibir Riska pun mengembang dan dia memantabkan hatinya untuk berkenalan dengan keluarga kekasihnya itu.
Hari ini, matahari sangat bersemangat memancarkan sinar bahagianya. Dengan senyum yang mengembang Riska berdiri di depan gerbang kos-kos an menunggu kekasih hatinya datang. Seperti biasa menjadi kewajiban baru sejak awal pacaran hingga sekarang Noval selalu mengantar jemput gadis blasteran Kediri-Ngawi ini. “Habis pulang kuliah nanti ke mall, yuk! Bete nih kuliah terus” ajak Noval pada kekasihnya yang hari ini tampak anggun di balut jilbab warna pink muda. “Aku gak janji ya, kayaknya hari ini bakal banyak tugas. Tapi akan aku usahakan” jawab Riska. matahari makin tinggi dan panasnya kian menyengat, aroma tanah gersang makin tercium karena saat ini masih dalam musim kemarau. Dua sejoli yang sedang kasmaran ini sedang menikmati Fastfood di salah satu mall terbesar di daerah ini. “Riska, aku gak mau kehilangan kamu. Kita harus tetap sama-sama ya, kamu jangan pergi” tiba-tiba saja Noval berkata dengan begitu aneh. Riska yang sedang menikmati makanannya langsung tersedak,  “Uhuk.. uhuk .. air tolong huk.. huk “ pinta Riska terkejut. “Kamu gak apa2 Sayang?! Ini air, pelan2 minumnya ya. Maaf aku gak bermaksud bicara macam-macam” ada rona menyesal di muka ovalnya yang tegas. Beberapa teguk air sudah mengalir di tenggorokan Riska dan membuatnya sedikit merasa lebih baik, “Kamu ini ngomong apa, sayang? Bagaimana mungkin aku bisa pergi meninggalkanmu, jika hatiku saja sudah kamu bawa? Lebih baik aku mati saja jika kita tak bisa bersamamu, sedikit egois memang tapi ini sungguh-sungguh. Lebih baik ayo kita pulang, aku tak ingin sampai kos terlalu malam, aku juga mulai merasa tidak enak badan” ucap Riska yang mulai terlihat pucat. “Kamu sakit? Ayo kita ke dokter dulu, aku janji gak akan berkata seperti tadi lagi. Sekali lagi maaf.” Riska bangkit dari kursi , memasukkan ponsel dan dompetnya kedalam tas ransel coklat kesayangannya, “Aku gak apa-apa, aku Cuma kecapekkan aja kok. Butuh istirahat ntar juga sembuh” ucap riska santai seolah dia tak mengalami apa-apa. “Loh.. loh .. hidungmu kenapa?! Darah, ada darah di hidungmu!” seketika Noval panic melihat darah segar yang mengalir dari hidung riska. Riska buru-buru mengambil tisu di dalam ranselnya, “Aku gak apa-apa kok, aku baik-baik saja. Ayo cepat kita pulang, Noval!” ucap riska sedikit tegas.
Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB dan aku belum berminat untuk kembali ke kontrakkan, pikiranku entah sudah melanglang kemana saja. Seperti seseorang yang sedang berbicara dengan diri sendiri, aku melamun dan sesekali  menghirup nafas panjang dan menghembuskannya seperti seseorang yang di timpa masalah berat. Aku hanya tak habis fikir bagaimana bisa wanita yang sangat aku sayangi ternyata sudah berkhianat. Wanita yang selama 3tahun terakhir ini sangat anggun dan sempurna di mataku kini telah menghunuskan belati tepat di jantung hati. Lagi-lagi mataku terasa pedih dan butiran bening mulai menetes dari sudut mata ku. Memori ku terlempar pada masa dimana kita baru saling mengenal satu sama lain, sebuah bunga mawar merah yang pernah kau berikan padaku saat itu masih aku simpan rapi di dalam laci kamarku. Aku benar-benar tak pernah menyangka  jika bunga mawar itu akan kau berikan padaku. Acara kampus kampus yang berjalan menyenangkan  memberikan percikan tersendiri padaku dan padamu. Saat itu adalah hari ke tiga dari acara ospek mahasiswa baru, setelah seharian penuh melakukan aktifitas yang cukup menguras tenaga, panitia pun melanjutkan acara penyerahan bunga. Setiap mahasiswa baru diminta untuk membawa bunga mawar yang nantinya akan di berikan kepada salah satu panitia ospek mahasiswa baru. “Untukku?” tanyaku ketika tiba-tiba ada seorang gadis bermata daun menyodorkan bunga mawar merahnya padaku. “Iya, untuk kakak” ucapnya tanpa ekspresi dan langsung berlalu meninggalkanku yang masih terperangah. “Terimakasih, ya.” Ucapku lirih karena dia sudah berlalu pergi.
“Jadi saya sakit apa, dok?” ruangan serba putih dan disana-sini terdapat begitu banyak alat-alat stainless adalah tempat yang hari ini di kunjungi Riska. Aroma menyengat yang keluar dari lemari-lemari obat di sudut ruangan bukanlah suasana yang menyenangkan untuk weekend seperti ini. Pagi ini riska datang ke sebuah rumah sakit untuk memeriksakan kondisi tubuhnya, karena sejak tadi malam  dia mengalami sakit yang luar biasa di kepala bagian belakangnya. “Ada yang tidak beres dengan kondisi otak belakang anda, saya belum bisa memastikan seberapa parahnya tapi yang jelas anda mengalami kanker otak yang saat ini sedang menggerogoti jaringan otak belakang. Saya sarankan untuk berkonsultasi dengan rumah sakit yang lebih besar agar bisa di tangani lebih lanjut. Dilihat dari banyaknya jaringan yang terjangkit kanker, saya prediksikan usia anda tidak lama lagi, kalaupun bisa bertahan anda akan mengalami rasa sakit yang luar biasa secara terus menerus” kata dokter paruh baya yang sedang membaca hasil rotgen didepan riska.
Musim pancaroba benar-benar menjadi momok tersendiri bagi beberapa mahasiswa hari ini. Sebagian dari mereka mengalami gangguan kesehatan seperti influenza, batuk dan demam. Memang Indonesia adalah adalah salah satu negara beriklim tropis yang masyarakatnya sangat rentan terhadap penularan penyakit jika di hadapkan pada suhu yang berubah-ubah. Hari ini noval pun sepertinya juga tidak secerah biasanya, ketika jam kuliah usai sebuah dering panggilan khusus dari ponselnya berbunyi, “Assalamualaikum, hallo noval” ucap suara di seberang sana. “Iya, waalaikumsallam riska. Ada apa? Kamu sudah selesai kuliahnya? Aku tunggu di tempat biasa ya, aku antar pulang” ucap noval bersemangat. “Eghh .. sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Aku tunggu di lorong kelas ya, aku ingin memberimu sesuatu. Assalamualaikum” tut.. tut.. tut.. bunyi nada sambungan telepon di putus dari ujung sana. “waalaikumsallam” ucap noval dengan penuh tanda Tanya. Tidak biasanya riska bersikap begitu acuh pada noval apalagi menutup telepon secara tiba-tiba. Memang akhir-akhir ini sikap riska sedikit berbeda, ia lebih sering menghindar dan sulit untuk di hubungi. Noval berjalan menuju lorong kelas persis seperti kemauan riska. Degub jantungnya semakin keras tatkala melihat ekspresi riska yang sangat tegang dan dingin. Matanya menyimpan berjuta misteri yang sangat sulit untuk noval artikan. Keduanya terlihat membisu, benar-benar tidak seperti biasanya. “Jika aku memberimu pilihan, apa yang lebih kamu suka, bintang atau matahari?” ucap riska seraya menyodorkan dua buah ukiran bergambar bintang dan matahari kepada noval. “Maksud kamu apa, riska? Aku benar-benar tidak paham” ucap noval masih tak mengerti apa maksud kekasih hatinya ini. “Aku hanya meminta, pilih salah satu dari ini lalu masukkan kedalam tasmu. Kamu akan mengerti maksudnya besok pagi” sebuah senyum tipis mulai tersungging di bibir riska. “Baiklah, aku pilih matahari” kata noval mengambil ukiran kayu bergambar matahari dan memasukkan ke dalam tasnya. “Pilihan yang bagus, sebenarnya aku menyuruhmu datang kesini karena ada yang ingin aku bicarakan noval. Kita sudah 3tahun menjalin kasih dan ada satu hal yang aku sembunyikan dari kamu. Aku benar-benar tak ingin membohongimu terlalu lama, jadi aku harap kamu bisa menerima semua ini” ucap riska dengan hati-hati dan intonasi nada yang benar-benar terlihat gugup. Noval tak ingin berkomentar, ia hanya bersikap khitmad menatap mata kekasihnya tanpa berkedip sedikitpun. “Aku telah membohongi mu, aku telah menodai kesetiaanmu dan aku tak pantas untukmu. Aku mencintai orang lain. Aku tak cukup baik untukmu, aku tak mencintaimu lagi. Aku mencintainya! Aku … aku… benar-benar merasa bersalah. Aku minta maaf!” riska menunduk dalam-dalam, ini sangat berat untuknya. Membohongi laki-laki yang selama ini sudah sangat baik memperlakukan dan memberikan cinta yang utuh untuk riska. Tapi semua ini semata demi kebaikan noval. Riska tahu, dengan sikapnya seperti ini noval pasti akan sangat marah terhadapnya dan itu akan cepat membuatnya bangkit untuk mencari kekasih yang baru. Dan disaat nanti noval telah menemukan kekasih yang baru, mungkin riska sudah tenang berada di surga dan tidur dengan damai. Kemarin setelah mendapat surat rujukan dari dokter untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis di rumah sakit yang lebih besar riska pun segera menelepon keluarganya dan pihak keluarga segera mengantar ke rumah sakit di Surabaya. Alhasil, kanker otak stadium 4 telah bersarang di otak belakangnya dan doktek mem-vonis hidupnya tak akan lama lagi. Sebuah kenyataan yang sangat sulit untuk di terima bagi gadis yang berusia belia.


“Aku tahu, kamu pasti akan memilih matahari di dalam ukiran itu, matahari akan selalu menjadi semangatmu, menjadi penghangatmu dan membuatmu menjadi pria hebat yang banyak di kagumi. Sementara aku, aku dengan kondisi fisikku yang seperti ini tak akan mungkin mampu menemanimu sampai ke titik itu. Dan aku pun juga tahu, kau tak akan memilih bintang karena bintang hanya bersinar sebentar dan akan tenggelam di gelap malam. Seperti juga aku, aku yang akan segera tenggelam bersama mimpi dan kesetiaan. Sukseslah selalu kekasihku, aku mencintaimu.”


*by : Kandi Swarisca. Antologi ini Saya persembahkan untuk UKM Jurnalistik UNISKA. Salam PERSMA!!!

Komentar

Unknown mengatakan…
Tulisan yang bagus, jika ending nya dibuat memberdayakan keduanya maka akan membuat yang baca tambah semangat.
forest mengatakan…
auw,,dowo...ku baca endingnya saja hahahahhaha
Kandi’s Journal mengatakan…
bapak ansori : wah terimakasih banyak pak. :D ini masih dalam tahap belajar :D
Forest : hehe, iya gpp. terimakasih telah berkunjung :)

My Most Popular Posts

Guyangan, Gang Dolly Versi Nganjuk