Postingan

What's Next

Karhutla - Menghirup Masalah: Saat Udara Bersih Jadi Barang Mewah

Pagi ini pemandangannya masih sama: langit kelabu, aroma sangit yang samar di udara, dan aplikasi pemantau kualitas udara yang lagi-lagi menyala. Indikatornya masih enggan berubah, masih sama merah pekat. Jujur, ada rasa sesak dan lelah tiap kali siklus tahunan ini berulang. Karhutla kembali terjadi, cuaca luar biasa terik dan susah ditebak, sementara kita di bawah sini dipaksa beradaptasi dengan kondisi yang makin tidak masuk akal. Rasanya miris, sesuatu yang paling mendasar untuk bertahan hidup—napas yang bersih—sekarang perlahan berubah jadi komoditas mewah. Yang bikin aku makin resah bukan cuma angka indeks polusi di layar ponsel, tapi efek dominonya yang langsung menghantam kehidupan sehari-hari: Dompet Rumah Tangga yang Dipaksa Menanggung Beban : Sadar atau tidak, kegagalan tata kelola lingkungan ini ujung-ujungnya dibebankan ke kantong pribadi kita. Tiba-tiba ada pos pengeluaran darurat yang membengkak: stok vitamin ekstra, obat batuk-pilek anak yang nggak kunjung t...

Pulang ke Rumah Kata: Menemukan Kembali Jejak yang Sempat Tertinggal

Gambar
Ada rasa yang aneh—campuran antara canggung, rindu, dan haru—saat kembali menatap halaman putih berkedip ini. Terakhir kali saya membagikan cerita di sini adalah tahun 2017. Sembilan tahun berlalu, angka di kalender bergulir begitu cepat, dan hidup membawa saya berjalan jauh melewati berbagai tikungan, tanjakan, serta fase-fase yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dulu, blog ini adalah rumah kecil tempat saya menumpahkan apa saja yang terlintas di kepala. Tempat saya bercerita tanpa beban. Namun seiring waktu, ritme kehidupan, tanggung jawab, dan kesibukan dunia nyata pelan-pelan menarik saya menjauh dari papan ketik ini. Blog ini sempat tertidur panjang. Meski begitu, ada satu hal yang tak pernah benar-benar padam: hasrat untuk merangkai kata. Menulis bukan sekadar hobi yang bisa begitu saja saya hapus dari daftar keseharian. Bagi saya, menulis adalah cara bernapas yang lain. Menulis adalah jangkar untuk merawat ingatan. Hidup ini fana dan bergerak teramat cepat; banyak momen be...

Tentang Pamit dan Selamat Tinggal

Gambar
Sejak kecil, aku selalu bertanya-tanya, bagaimana bisa ayah dan ibu bertemu setiap hari, tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama, dan tidur di tempat tidur yang sama, tetapi tak pernah satu pun dari mereka merasa bosan. Aku heran mengapa dua orang yang bertatap muka dengan kadar melebihi jadwal minum obat –lebih dari tiga kali sehari– bisa tidak merasa jenuh. Aku sering memikirkan hal itu. Sampai aku bertemu kamu. Baru aku tahu, ternyata sebuah “Aku pamit” rasanya bisa seberat “Selamat tinggal”. Padahal, baru saja beberapa detik yang lalu kita bercengkrama, tertawa bersama, membahas dunia. Padahal, ini sudah ketiga kalinya dalam satu kali perputaran revolusi bulan kita bertemu. Namun setiap kali waktunya datang ‘tuk berpisah, meski hanya sementara, ‘pamit’ selalu terasa semakin berat. Perpisahan, dalam bentuk apa pun, meski tak seberat “selamat tinggal”, tetap saja rasanya sulit. Ini semua karena aku sudah ter...

Sakit Yang Paling Sakit

Gambar
Pernahkah kamu marah pada dirimu sendiri hingga rasanya ingin memukul wajahmu sekeras mungkin sampai kamu mati? Bukan karena bumi bergemuruh atau langit runtuh, tetapi lebih buruk dari itu. Lebih putus asa daripada itu. Karena... Dia mencintaimu. Kamu melukainya. Pada malam saat kamu tidur. Kamu berharap bayangan buruk akan larut bersama mimpi. Atau kamu merelakan diri, berharap mimpi indah datang memanipulasi kenyataan. Mengembalikan sesuatu yang tak dapat dikembalikan. Waktu. Pagi hari saat kamu terbangun. Hanya tatapan kosong yang memancar dari sepasang matamu yang mencerminkan hati yang berlubang. Lubang yang kamu gali sendiri. Lubang yang tercipta karena ulahmu sendiri. Air yang mengalir dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kamu berharap bisa menyegarkan raga, meskipun sebenarnya hanya tipu daya. Tetapi setidaknya, hanya sesaat, hanya sepersekian detik. Nyatanya, hanya harapan yang mengalir luruh bersama air melalui sela-sela di sudut lantai. Pad...

Kopi Darimu Sore Itu

Gambar
Secangkir kopi yang kau suguhkan sore itu, tak berarti apa-apa untukku. Itu hanyalah sebuah simbol kesopanan yang kau berikan, yang kau hidangkan. Tak lebih dari sebuah keharusan. Karena kau tak pernah tahu, apa yang sesungguhnya kuinginkan dari kedatanganku ke istana mungilmu. Bukan sekedar basa basi dari bibir tipismu atau pun pahit kopimu. Yang kuinginkan hanyalah hatimu. Namun, justru belas kasihan yang kau beri atas peluh yang membasahi dahi. Tak ayal pula kau cukupi rasa sedihku, dengan senyummu. Justru senyum masam yang kau sediakan.  Kasih, tak cukup sekian kumenanti hari di mana kan kau mengerti. Hari di mana kau kan sadari. Aku lah pemuja rahasia yang kau puja setiap waktu, namun tak kunjung kau temukan pada khayalmu. Dan mungkin kopi darimu sore itu adalah pengantar rindu yang mencoba aku salurkan padamu, wanita bermata syahdu.