Matahari Untuk NOVAL
“ Aku tak cukup baik untukmu, aku tak mencintaimu lagi. Aku mencintainya! Aku … aku… ” ucapnya dengan terbata-bata dan ekspresi yang tidak dapat aku terka, mataku berkunang-kunang. Aku bangkit dan melangkah pergi meninggalkannya yang masih terus berbicara. Berjalan gontai menuju parkiran kampus melewati lorong2 kelas yang cukup sejuk. Pikiranku kosong, dadaku sesak dan pengap. Akal warasku hilang, kupacu sepeda motor ninja 4tak ku dengan kecepatan yang luarbiasa. Air mataku meleleh tanpa bisa kubendung lg, mengalir dan terus mengalir. “Sial, aku lemah sekali!” hardikku dalam hati. Sepeda motor yang kunaiki terus kupacu dan aku bawa ke sebuah puncak di kota Kediri. Di tempat ini, dulu sering ku ajakknya menikmati udara segar. Sebuah bukit dan pemandangan yang luar biasa indah sebagai sajian utamanya yang telah menjadi saksi bisu kisah asmaraku dengannya. Aku merebahkah badanku pada sebuah batu yang cukup besar, angin sepoi-sepoi menerpa kelelahan hatiku yang terluka. Mengang...