Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2014

Yang Aku Rasa Ketika Kau Pergi

Gambar
          Matahari masih bersembunyi di ufuk timur ketika aku sudah bersiap-siap untuk pergi. Berkali-kali aku bercermin untuk memastikan diriku sudah secantik mungkin untuk bertemu dengannya nanti. Balutan gaun putih, sepatu kaca pada kakiku dan rambut terurai dengan sedikit make-up pada wajahku, sempurna, aku tersenyum sembari melihat penampilanku sekali lagi. Setelah memastikan semuanya sempurna, aku membiarkan pinggangku yang sedari tadi berdiri tak karuan di depan cermin untuk istirahat dalam empuknya soffa di ruang tengah, aku menghitung waktu sambil sekali-kali  menatap layar handphone untuk memastikan seseorang disana pun sedang bersiap-siap untuk bertemu denganku. Dalam penantian waktu untuk pergi dan mendapat kabar darinya, memori di otakku mulai memutar kembali bagaimana aku dan dia dalam sekolah yang sebentar lagi akan ku tinggalkan. Memoriam itu sedikit mengusikku, membuat sesuatu bergemuruh dalam dada dan membuatku sesak hing...

'Rujak-Manis' Renungan Hari Ini

Gambar
Hidup sedang indah-indahnya – katakanlah berjalan sesuai dengan keinginan dan harapan saya. Lalu tak beberapa lama saya dihadapkan pada situasi atau momen yang membuat ingin berteriak sekerasnya, lari, dan bahkan frustrasi. Di kantor seorang rekan kerja mengundurkan diri tiba-tiba dan semua tanggungjawab pekerjaannya diserahkan pada saya. Padahal ada sebuah deadline mendesak dan permasalahan yang harus diselesaikan dalam tenggat waktu terbatas. Saya mulai merutuk dalam hati, sial sekali hari ini. Banyak hal yang harus dikejar tentunya. Menolak untuk menerima tanggungjawab pun rasanya tidak mungkin karena pekerjaan ini berhubungan langsung dengan tugas saya. Terpaksa menerima walau jengkel setengah mati. Bos rupanya berbaik hati karena memberikan tambahan waktu mengingat porsi tugas yang sudah terlampau banyak untuk saya kerjakan sendiri. Sedikit lega, tetapi masih ada bayangan apakah saya mampu untuk menyelesaikan tepat waktu. Pic. From : google.com Belum cukup sampai...

Dia Yang Tak Kembali

Gambar
Dua orang yang saling jatuh cinta. Pojok kafe sepi di dalam sebuah stasiun. Aroma kopi menguar samar sedang musik mengalun lembut melalui pengeras suara yang terpasang menyebar sekeliling ruangan. Dua pasang mata saling menatap, saling memandang setelah ratusan hari terlewat begitu saja tanpa sapa atau kabar berita. Hanya diam seakan menjadi perantara untuk mereka. Pic From : google.com Tatapan matanya masih sama seperti hari ketika aku meninggalkannya pergi. Teduh dan membuatku nyaman untuk tinggal atau sekadar meresapi keheningan di dalamnya. Bukan salahnya atau bisa jadi ini kesalahanku. Senyumnya tetap terasa seperti oase yang begitu aku rindukan. Membasahi hati yang terlalu lama kering setahun kemarin. Kataku kepadanya. Sejak ia memilih pergi dari hari-hariku. Meniadakan adaku dengan laki-laki lain. Aku tetap di sini, menanti entah apa dan kapan akhirnya aku bertemu muka sekali lagi dengannya. Musik berganti, satu lagu ke lagu lainnya. Seolah-olah detik ...

Ini Memang Terlalu Usang

Gambar
Ini memang   terlalu usang Cerita lama yang semakin mengiang Bagian dari sepenggal nada yang tak pernah hilang Dan pertanggung jawaban atas penantian Pic from : google.com Belukar yang mengakar menjalar kekar Aku sadar, Aku terlalu lama berdiri sendiri Kokoh menagih seucap janji Tanpa peduli perih tertusuk ribuan duri Tanpa peduli luka sayat sebilah belati Sejujurnya, diafragmaku sudah lelah untuk berlari Mengejarmu yang tlah lupa diri Hampir mati Setiap bahagiamu dengannya Setiap tawamu dengannya Setiap kisahmu dengannya Adalah luka yang teramat lara Mengobrak-abrik seluruh indra Adakah kau ingat selarik saja? Tentang kelingking-kelingking kecil kita Atau mungkin, Jalan lurus tepat diujung sana? Ini memang terlalu usang Cerita lama yang makin mengiang Masih bolehkah aku bertahan? Selama belum menjadi ikatan atas nama Tuhan

Meski Remuk

Gambar
Petir memantak dari kepala merasuk hati seraya aku mengetahui kamu, di sana, tersakiti. Topan badai menerpa arteri mengisi denyut nadi, menyadari kamu yang ada di luar jangkauanku, bersedih. Rasanya soda api membasuh luka-luka ketika aku tahu kamu, yang tak tersentuh, sudah pergi. Bahkan ketika kamu, yang kini bersamanya, bahagia, tetap saja terasa seperti hujan belati menghunus pori-pori hati. Di sini sekarang aku coba bertahan, meski sambil menyeka luka yang harus kutekan. Darahnya tidak berhenti mengalir, sakitnya tidak kunjung mangkir. Lalu aku tanyakan pada diri sendiri, mengapa bisa sampai sejauh ini? Aku terlalu ingin membahagiakanmu, sehingga tak rela kamu bahagia dengan selain aku. Setiap sukamu dengannya, adalah bahagiaku yang terebut. Setiap tawamu dengannya, disitulah bagian jiwaku terenggut. Setiap kudengar “Ini takdirmu dengannya,” kepasrahanku enggan manut. Setiap terbayang klise tentang kamu, aku rela perjuangkanmu hingga nyawa dicabu...

Sepucuk Rindu untuk Prajurit

Gambar
Hai Mas, Saya tulis tulisan ini ketika perasaan saya sedang merindu. Bersama dengan   Rintik Hujan di luar sana yang memberikan efek damai dengan aroma khasnya, tanah basah. Bersalam rindu pada social media adalah jalinan model hubungan kita. Entah bagaimana awal ceritanya, hingga kita bisa menjadi seindah ini. Terbalut pada kisah asmara yang membara. Rasa cinta yang mulai merayapi ruang kosong sanubari, rasa nyaman yang mulai menyelimuti kegelisahan hati   dan rasa rindu yang mulai nakal menghinggapi pikiran ini. Ah, lama-lama saya bisa gila. Sayang, Mungkin, saat ini kau sedang sibuk dengan pistol dan peluru-pelurumu. Mungkin, saat ini kau sedang sibuk berbaris dan segudang jadwal apelmu. Atau mungkin, saat ini kau sedang sibuk merayap di lapangan yang penuh lumpur itu. Saya bisa menebak, pasti saat ini wajahmu sangat kusut dan lelah dengan segala aturan yang bersarang di pundakmu. Tapi, kau tetap tersenyum untukku. Tetap hangat kepadaku. Dan tak pe...