Sepucuk Rindu untuk Prajurit
Hai Mas,
Saya tulis tulisan ini ketika perasaan saya sedang merindu. Bersama dengan Rintik Hujan di luar sana yang memberikan
efek damai dengan aroma khasnya, tanah basah. Bersalam rindu pada social media adalah
jalinan model hubungan kita. Entah bagaimana awal ceritanya, hingga kita bisa
menjadi seindah ini. Terbalut pada kisah asmara yang membara. Rasa cinta yang
mulai merayapi ruang kosong sanubari, rasa nyaman yang mulai menyelimuti
kegelisahan hati dan rasa rindu yang mulai
nakal menghinggapi pikiran ini. Ah, lama-lama saya bisa gila.
Sayang,
Mungkin,
saat ini kau sedang sibuk dengan pistol dan peluru-pelurumu.
Mungkin,
saat ini kau sedang sibuk berbaris dan segudang jadwal apelmu.
Atau
mungkin, saat ini kau sedang sibuk merayap di lapangan yang penuh lumpur itu.
Saya bisa menebak, pasti saat ini
wajahmu sangat kusut dan lelah dengan segala aturan yang bersarang di pundakmu.
Tapi, kau tetap tersenyum untukku. Tetap hangat kepadaku. Dan tak pernah
mengeluh bahkan satu kata pun. Kau selalu berkata, “Aku selalu baik-baik, Sayang. Yang aku harapkan kau bisa menjaga
hatimu disana saat jauh dariku.”
Seperti es dikutub utara lalu di terpa udara panas dari Afrika, hati ini
luluh dan senyum haru bahagia terpancar di hati saya.
![]() |
| My Love |
Baginya, negara adalah segalanya.
Dia seorang abdi negara yang mengagumkan. Semangatnya tak pernah surut dan
bahkan nyawa akan menjadi taruhannya. Kesetiaannya pada negara tidak perlu
dipertanyakan lagi. Tetapi jika berbicara masalah hati, dia sangat lemah. Saya
paham sekali meskipun di tubuh gagah tegapnya
itu selalu tersungging senyum ramah, tapi sorot bola matanya nampak
sangat lelah. Bibirnya bisa berdusta, tapi matanya tidak. Sorot mata itu adalah
sorot mata yang haus akan sebuah pertemuan. Rindu kepada keluarga, rindu sanak
saudara dan mungkin juga rindu kepada kekasihnya, Saya.
Hutan belukar, tanah
perantauan atau bahkan kawan dari berbagai sebrang adalah makanannya setiap
hari. Dia tetaplah manusia yang berhati lemah sama seperti manusia lainnya. Menurut saya, banyak sekali kekeliruan tentang sosok
abdi negara yang seperti dianggap memiliki hati baja dibanding manusia lainnya. Padahal kenyataannya, TIDAK.
Tahukah
kalian, jika seorang abdi negara hanya memiliki waktu yang sangat minim untuk
berkumpul bersama keluarga dan saudara? Apa kalian mau ketika harus bekerja
dan terus bekerja dan hanya memiliki waktu cuti sangat sedikit sekali? Bahkan
harus bekerja bertahun-tahun di tanah orang yang sangat asing bagi anda?! Semua
dipenuhi aturan yang ketat dan diatur negara.
Tahukah
kalian, jika seorang abdi negara harus mempertaruhkan nyawanya hanya demi
sebuah pekerjaan? Apa kalian mau, jika bertaruh nyawa demi sebuah JOB? Saya
rasa pasti tidak. Tapi ,seorang abdi negara harus mau!
Atau tahukah kalian, jika abdi
negara itu jugalah seorang manusia biasa yang bisa merasakan rindu, sakit,
menyerah, sedih dan marah yang semua itu harus tercover sempurna demi sebuah
pekerjaan? So what? Kita pasti pernah merasakan galau gundah gulana-kan? Nah,
apakah perasaan ini boleh kita ekpresikan ketika menjadi abdi negara? No time!
Yang ada kalian akan kelelahan dengan jadwal latihan yang diatur ketat dan
harus memakai topeng “Sakti” agar tetap terlihat tegar.
Saya merasa sangat miris. Hati saya getir
melihatnya harus berjuang dibawah hujan, dibawah panas, menelusuri hutan,
menyelami rawa-rawa, naik turun hutan dan perbukitan. Oh My God! Terkadang saya
mengeluh mengapa harus kekasih saya yang menjadi abdi negara. Membayangkannya saja saya sering terisak,
apalagi melihatnya terjun kelapangan dan berjuang mati-matian?! Ketika banyak
orang meributkan gaji seorang prajurit, pertanyaan saya, apakah itu setimpal
dengan perjuangannya mempertahankan tanah air?! Seorang abdi negara tidak
sedang membicarakan kelompok atau golongan, mereka berbicara atas dasar
Indonesia. Atas dasar sebuah negara.
Oleh karenanya, setiap ada kesempatan untuk bertemu saya
selalu memberikan support dan doa kepada laki-laki yang teramat saya sayangi
ini. Antara saya dengan laki-laki ini sebenarnya memiliki banyak perbedaan.
Saya berasal dari Jawa dan dia dari Sumatra. Dua pulau yang memiliki adat
istiadat serta budaya yang berbeda. Tapi kami saling berkomitmen untuk menjaga
hubungan jarak jauh ini dengan kejujuran serta komunikasi yang baik. Kami yakin
bahwa niat yang tulus InsyaAllah akan membuahkan hasil yang manis meskipun
banyak rintangan pada hubungan ini.
Pada beberapa kesempatan, diusia yang
masih sama-sama muda (dia 23 tahun dan saya 20 tahun) dia sudah
memiliki pandangan yang luas untuk kelangsungan hubungan kami kedepan. Mulai dari
membicarakan masalah pernikahan, domisili tempat tinggal dan masih banyak lagi
dimana saya selalu ada didalam setiap rencananya. Pemikiran seperti itulah yang
sebenarnya membuat saya nyaman bersama laki-laki berkelahiran kota Bandar Lampung
ini. Saya berdoa agar hubungan yang didasari dengan niat baik ini mendapat ridha dari Allah serta restu
dari keluarga dan sanak saudara. (Aamiin)
Dan terakhir, untuk prajurit negara
kesayangan saya, Apriyono.
Saya akan mencintai anda dan menjaga
kesetiaan ini untuk anda, sama seperti rasa cinta anda terhadap saya.
Terimakasih atas segala perjuangan luarbiasa anda kepada saya selama ini.
Always love you so much, Honey. Miss you!
.

Komentar
Terimakasih sudah menulis kisah yang indah ini
Sy juga pertama memiliki pasangan seorang prajurit.. awalnya juga berat setiap hari menangis
Tapi setelah dia pulang.. sy tau saya adalah alasan dia untuk pulang ..