Tentang Pamit dan Selamat Tinggal
Sejak kecil, aku selalu bertanya-tanya, bagaimana bisa ayah dan ibu bertemu setiap hari, tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama, dan tidur di tempat tidur yang sama, tetapi tak pernah satu pun dari mereka merasa bosan. Aku heran mengapa dua orang yang bertatap muka dengan kadar melebihi jadwal minum obat –lebih dari tiga kali sehari– bisa tidak merasa jenuh. Aku sering memikirkan hal itu. Sampai aku bertemu kamu. Baru aku tahu, ternyata sebuah “Aku pamit” rasanya bisa seberat “Selamat tinggal”. Padahal, baru saja beberapa detik yang lalu kita bercengkrama, tertawa bersama, membahas dunia. Padahal, ini sudah ketiga kalinya dalam satu kali perputaran revolusi bulan kita bertemu. Namun setiap kali waktunya datang ‘tuk berpisah, meski hanya sementara, ‘pamit’ selalu terasa semakin berat. Perpisahan, dalam bentuk apa pun, meski tak seberat “selamat tinggal”, tetap saja rasanya sulit. Ini semua karena aku sudah ter...