Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Tentang Pamit dan Selamat Tinggal

Gambar
Sejak kecil, aku selalu bertanya-tanya, bagaimana bisa ayah dan ibu bertemu setiap hari, tinggal di rumah yang sama, makan di meja yang sama, dan tidur di tempat tidur yang sama, tetapi tak pernah satu pun dari mereka merasa bosan. Aku heran mengapa dua orang yang bertatap muka dengan kadar melebihi jadwal minum obat –lebih dari tiga kali sehari– bisa tidak merasa jenuh. Aku sering memikirkan hal itu. Sampai aku bertemu kamu. Baru aku tahu, ternyata sebuah “Aku pamit” rasanya bisa seberat “Selamat tinggal”. Padahal, baru saja beberapa detik yang lalu kita bercengkrama, tertawa bersama, membahas dunia. Padahal, ini sudah ketiga kalinya dalam satu kali perputaran revolusi bulan kita bertemu. Namun setiap kali waktunya datang ‘tuk berpisah, meski hanya sementara, ‘pamit’ selalu terasa semakin berat. Perpisahan, dalam bentuk apa pun, meski tak seberat “selamat tinggal”, tetap saja rasanya sulit. Ini semua karena aku sudah ter...

Sakit Yang Paling Sakit

Gambar
Pernahkah kamu marah pada dirimu sendiri hingga rasanya ingin memukul wajahmu sekeras mungkin sampai kamu mati? Bukan karena bumi bergemuruh atau langit runtuh, tetapi lebih buruk dari itu. Lebih putus asa daripada itu. Karena... Dia mencintaimu. Kamu melukainya. Pada malam saat kamu tidur. Kamu berharap bayangan buruk akan larut bersama mimpi. Atau kamu merelakan diri, berharap mimpi indah datang memanipulasi kenyataan. Mengembalikan sesuatu yang tak dapat dikembalikan. Waktu. Pagi hari saat kamu terbangun. Hanya tatapan kosong yang memancar dari sepasang matamu yang mencerminkan hati yang berlubang. Lubang yang kamu gali sendiri. Lubang yang tercipta karena ulahmu sendiri. Air yang mengalir dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kamu berharap bisa menyegarkan raga, meskipun sebenarnya hanya tipu daya. Tetapi setidaknya, hanya sesaat, hanya sepersekian detik. Nyatanya, hanya harapan yang mengalir luruh bersama air melalui sela-sela di sudut lantai. Pad...