Yang Aku Rasa Ketika Kau Pergi
Matahari masih bersembunyi di ufuk timur ketika aku sudah bersiap-siap
untuk pergi. Berkali-kali aku bercermin untuk memastikan diriku sudah
secantik mungkin untuk bertemu dengannya nanti. Balutan gaun putih,
sepatu kaca pada kakiku dan rambut terurai dengan sedikit make-up pada
wajahku, sempurna, aku tersenyum sembari melihat penampilanku sekali
lagi. Setelah memastikan semuanya sempurna, aku membiarkan pinggangku
yang sedari tadi berdiri tak karuan di depan cermin untuk istirahat
dalam empuknya soffa di ruang tengah, aku menghitung waktu sambil
sekali-kali menatap layar handphone untuk memastikan seseorang disana
pun sedang bersiap-siap untuk bertemu denganku. Dalam penantian waktu
untuk pergi dan mendapat kabar darinya, memori di otakku mulai memutar
kembali bagaimana aku dan dia dalam sekolah yang sebentar lagi akan ku
tinggalkan. Memoriam itu sedikit mengusikku, membuat sesuatu bergemuruh
dalam dada dan membuatku sesak hingga ingin menangis. Sesungguhnya, hari
ini adalah hari yang paling sangat tidak ku nantikan, yap, hari acara
perpisahan sekolah. Bagaimana mungkin aku bisa mengatur kerja jantungku
agar tidak berdegup terlalu kencang lalu memicu kelenjar air mata untuk
mengeluarkan tetes-tetesan yang disebut air mata itu? Apa gunanya
dandanan cantik yang ku persiapkan sedari jam 3 pagi tadi bila akhirnya
air mata akan menghapus semuanya dalam sekejap? Aku mengangkat-angkat
kepalaku sembari mengedip-ngedipkan mata berharap dengan melakukannya
air mataku akan kembali masuk ke dalam mataku.
Angin
sepoi-sepoi mengiringi langkah kakiku masuk melewati gerbang sekolah,
membuat gaunku ikut menari-nari bersama angin. Senyuman manis sudah ku
ukir sejak tadi diwajahku, lenganku menggandeng bunda yang ikut serta
dalam acara perpisahan nanti dan mataku liar mencari sosok lelaki yang
sangat kunantikan hadirnya. Tidak. Aku tidak menemukannya disudut
manapun dalam sekolah, dengan sigap aku mengambil handphone dan mengirim
pesan singkat kepada lelaki itu tapi sudah setengah jam menanti,
balasannya tak kunjung tiba. Sembari menunggu kehadirannya, lamunanku
tentangnya kembali membayang-bayang didepan mataku, begitu jelas
seakan-akan aku benar-benar kembali ke masa itu, hentikan! Aku menjerit
dalam hati, aku tidak boleh merusak hari terakhirku bersamanya, aku
tidak mungkin merusak bajunya dengan air mata ketika dia memelukku.
Kedua telapak tanganku menyilang dalam dada, kali ini aku merasakan
sakit yang beda dengan hari sebelumnya, kenyataan ini tak bisa ku bantah
bahwa kita akan berpisah dan besar kemungkinan untuk tidak bersama
lagi. Kau akan bertemu banyak teman baru, gadis-gadis yang lebih manis
dariku, lebih pintar dan lebih menarik, ah, aku tahu, tak seharusnya aku
punya pikiran sejelek itu tentangmu. Tapi, ini adalah sebagian dari
begitu banyak rasa khawatirku.
Senyuman
dan keceriaan ini hanya topeng untuk menutupi betapa sedihnya hatiku.
Tapi ketika melihatmu, aku tak kuasa lagi, gemuruh di dada ku begitu
kuat, pipi ku menjadi begitu panas dan air mata itu mengalir dengan
sendirinya. Aku berlari ke arahmu dan membiarkan kau melihat aku dalam
ketidakkuatanku. Maaf. Aku menangis dalam pelukanmu di saat-saat
terakhir. Maaf. Kini air mata ku membasahi bajumu. Maaf. Karena kini aku
tak bisa lagi menyimpan perasaan ini hanya untukku sendiri.
Semua
usai, aku terduduk lemas tak berdaya di atas soffa ruang tengah. Begitu
lelahnya hari ini tapi tak dapat menutupi kegundahan hatiku kini. Entah
harus senang akan kelulusan ini atau harus bersedih karena perpisahan
ini. Teringat olehku
bagaimana tangan besarnya menghapus air mata ku saat aku menangis dalam
pelukan dirinya. Dada ku berdesir dan mengukir senyum disana, tapi, dia
tak mengucapkan apapun didetik-detik terakhir, semua kata-kata terkunci
dalam diam. Semua perasaan terelesiasikan dalam bentuk tangisan.
Perpisahan
adalah kata-kata paling menyedihkan yang kutemukan dalam hidup. Tapi
dalam hati aku tahu dan meyakini satu hal, cinta itu akan tetap ada,
walau jarak memisahkan raga bermil-mil jauhnya, walau waktu mengikis
hidupku sedikit demi sedikit, cinta itu akan tetap disini dan tidak akan
lekang oleh waktu. Hanya saja "selamat tinggal" adalah kata-kata
terakhir ku untuk bisa tetap menahanmu bersama denganku disini.

Komentar